Turut hadir adalah para saksi hidup dan pengkaji tentang M. Natsir, seperti oleh anak almarhum Ibu Asma Faridah Saleh. Prof Dr Redzuan Othman sebagai moderator, Dato` Dr Sidiq Fadzil dan pembicara antara lain oleh Prof Dr Laode M. Kamaluddin, Christ Siner Key Timu, Prof Madya Muhammad Nur Manuty, Syuhada` Bahari, Prof Dr Mohd Kamal Hasan, Dr Gamal Abdul Nasir Hj Zakaria dari Brunei, Dr Zulkipli Aini dan ditutup dengan sebuah resolusi oleh Hj Ab Halim Ismail dan Dato` Haji Mohd Adnan Isman.
Dengan tema "berdakwah di jalur politik dan berpolitik dijalur dakwah" para pemakalah menyampaikan keunggulan Natsir sebagai seorang pendakwah, politikus, ahli agama, pendidik dan sebagainya. Menyinggung mengenai politik dakwah and kacau balaunya suasana perpolitikan Nasional saat ini, maka penulis teringat akan kepribadian Natsir yang dapat menyatukan Islam traditional, Islam modern dan berbagai kelompok Islam lainnya dalam satu wadah partai bernama Masyumi.
Saat ini terdapat banyak sekali partai Islam atau partai yang mengaku Islami. Saya sebagai orang yang agak terpelajar saja bingung, apalagi masyarakat awam dikampung yang tidak begitu membaca berita. Dan nampaknya kelebihan satu partai Islam saat ini hanya mampu mengurangi suara partai Islam lainnya saja dan tidak mampu mengurangi suara-suara yang ada di partai Golkar atau PDIP serta partai lainnya.
Kekuatan Natsir yang saya lihat adalah bahwa beliau ikhlas dalam berjuang. Keikhlasan inilah yang membuatnya melihat segala penderitaan, siksaan dan kesusahan yang dialaminya bagaikan sebuah irama yang merdu, bagaikan hidangan yang nikmat dan bagaikan keindahan panorama yang begitu mempesona.
Bangi, 10 January 2009
Afriadi Sanusi
di petik dari http://adi-rawi.blogspot.com/2009/01/100-tahun-m-natsir-di-malaysia.html